Minggu, 28 Juni 2009

NIKMAT HATI

22 juni 2009, 06:40 Pagi


Naik turun ini, pada sadar akan menyembah Tuhan memang suatu perjuangan tiada henti. Hari ini lupa, besok ingat, lalu lupa dan ingat lagi.
Memang seperti kuburan; lupa-lupa ingat.

Ketenangan hati, kemanteb-an dan kelurusan, adalah tujuan hidup yang sebenarnya. Bukan bahagia atau menderita, karena bahagia dan menderita cuma isi dari paket hidup saja.
Nyaman bukan berarti tentram. Lebih baik tentram dari pada nyaman.

Kita mendapat pekerjaan yang nyaman, yang menjamin. Namun hati tidak tentram. Sama saja kita membohongi diri. Tujuan hidup yang sebenarnya tidak akan tercapai. Kemudian, meskipun pekerjaan kita kurang terjamin, tidak nyaman karena harus berusaha keras, dan jika hati tentram, semua bukan masalah. Pekerjaan itu berarti yang kita impikan dan idamkan. Lebih penting lagi bahwa, kita benar-benar hidup.

Kembali lagi semua diukur dari hati. Bukan dari penglihatan. Hidup ini untuk dinikmati, bukan diratapi. Entah itu sengsara atau bahagia, jika dinikmati akan menjadi bahagia semua.
Maka, nikmatilah semua apa yang sedang menimpa anda. Nanti pasti semua jadi mudah.
Terbukti!!!

HARTA

21 juni 2009, 09:40 Malam



Berantakan kamar, adalah bukti dari pribadi yang punya. Bukan iman, bukan paras. Tapi pribadi, kesadaran akan diri dengan yang bersangkutan.

Sendiri jika dinikmati akan menjadi bahagia. Merasa cukup dengan sadar akan Tuhan, membuat kita bahagia.
Impian tinggi boleh, namun siapkah kita dengan impian itu?

Bayak orang terkecoh. Harta banyak seakan solusi. Bisa beli ini, beli itu semau kita seakan satu-satunya kebahagiaan.
Tertipu, sungguh tertipu.

Cukuplah harta untuk kemaslahatan kita. Bila siap mempertanggung jawabkan bisa dengan kemaslahatan orang lain. Bila tidak siap, masuklah kita pada fitnah.

Mereka yang tidak siap bayak yang melakukan korupsi. Mengambil jalan tidak halal. Sekecil apapun itu, korupsi tetap korupsi.
Anak yang makan hasil korupsi dari bapak, mungkin sekali tidak barokah. Tidak bermanfaat, dan akan merugi di kemudian hari.
Berhati-hatilah.

Semakin lama tidak tertarik pada harta. Seakan jijik dengan dunia, walaupun belum 100%.
Mau kemana lagi? Harta tidak dibawa mati. Sebaliknya, akan diminta pertanggung jawaban kelak.
Dari mana dan untuk apa harta yang ada pada kita.
Jangan tetipu. Awas!!!

Banyak juga yang tertipu hanya melihat dari luar. Pakaian bagus, sepatu mahal, mobil mewah, gaya seakan orang tanpa dosa (padahal sedang lupa dosa).
Sebagai contoh, coba lihat saat menunggu lampu merah di perempatan. Seratus rupiah seakan tidak mau hilang dari genggaman. Pengamen dan pengemis adalah utusan Tuhan, yang aka membersihkan kebusukan hati, pikiran. Kita malah memandang sebelah mata. Kadang juga memaki, atau pura-pura tuli dan buta.

Seharusnya perempatan lampu merah jadi ladang amal kita. Bukan ajang pencaci makian. Kita kurang peka membaca situasi ini. Karena pikiran kita sedah penuh dengan urusan dunia.